Jumat, 07 Januari 2011

TUMPEK LANDEP, TAJAMKAN ''SENJATA KEHIDUPAN''


 
Saniscara Kliwon Wuku Landep, seperti biasa umat Hindu merayakan Tumpek Landep. Dalam konteks ritual, umumnya umat Hindu memohon ke hadapan Hyang Widi Wasa agar tiap peralatan teknologi dapat berfungsi tepat guna, memudahkan umat dalam beraktivitas.

Di balik itu, apa sesungguhnya makna Tumpek Landep? Plt. Rektor Institut Hindu Dharma (IHD) Negeri Denpasar Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag. mengatakan perayaan Tumpek Landep pada hakikatnya memohon kepada Tuhan agar umat diberikan ketajaman senjata kehidupan. ''Landep itu mengandung makna runcing atau tajam. Jadi yang ditajamkan adalah senjata kehidupan kita. Tumpek Landep dipakai momen untuk menajamkan senjata kehidupan,'' ujar Rudia Adiputra.

Senjata kehidupan itu, kata Rudia, tak lain adalah pikiran. Agar pikiran cerdas, perlu ditajamkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Melalui pikiran yang tajamlah umat diharapkan mampu menghadapi berbagai musuh dalam diri. Musuh itu yakni persoalan-persoalan kehidupan, antara lain kemiskinan, kebodohan, kegelapan dan sebagainya. ''Berbagai musuh itulah yang mesti kita lawan dengan tajamnya pikiran dan hati nurani,'' ujarnya.

Kata Rudia, menajamkan pikiran itu melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Melalui perayaan Hari Saraswati-lah umat Hindu bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa karena telah diturunkannya ilmu pengetahuan. Sementara, dalam Tumpek Landep umat ''mengevaluasi'' apakah tajamnya pikiran lewat penguasaan ilmu pengetahuan sudah mampu digunakan dengan baik.

Kata Rudia, salah besar jika ada anggapan bahwa Tumpek Landep dimaknai otonan kendaraan. Pada Tumpek Landep umat sejatinya memohon keselamatan agar senjata kehidupannya bisa bermanfaat demi kesejahteraan umat manusia. Pun kendaraan, senjata dan alat-alat teknologi tercipta dari olah pikir manusia. Dalam ritual Tumpek Landep, alat-alat itu diharapkan dapat berfungsi untuk memudahkan aktivitas manusia sekaligus bermakna bagi kehidupan bersama.

Makna bagi Seniman
Tumpek Landep pun memiliki makna tersendiri bagi para seniman. Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Negeri Denpasar Prof. Dr. Wayan Rai S, M.A. mengatakan Tumpek Landep sebagai momen penting untuk mempertajam kemampuan seni bagi seorang seniman.

Perayaan Tumpek Landep itu hendaknya dijadikan tonggak untuk memantapkan diri dalam berkesenian yakni menajamkan penciptaan, teknik garapan dan sebagainya. Untuk bisa membuat garapan yang betul-betul metaksu, perlu ada upaya dari dalam maupun luar diri seniman.

Kata Rai, Tumpek Landep erat sekali hubungannya dengan taksu. Secara umum, para seniman sudah melakukan pemujaan saat memulai berkesenian. Tetapi dalam perayaan Tumpek Landep, para seniman lebih memantapkan diri melakukan penajaman melalui persembahyangan agar metaksu. Dengan mengosongkan pikiran untuk memuja Tuhan, diharapkan muncul inspirasi dan spirit baru.

Sebagai bentuk ritual memuja Dewa Kesenian dalam Tumpek Landep, para seniman biasanya mengupacarai atribut tari seperti gelungan, keris, tombak dan lain-lain. ''Dengan melangsungkan ritual seperti itu para seniman berharap agar selalu diberikan ketajaman dalam berkesenian,'' katanya.

Penajaman itu tak hanya lewat keterampilan atau latihan, tetapi juga spiritual. Sehingga para seniman mampu tampil tajam atau metaksu. ''Untuk bisa metaksu, seorang seniman harus meraihnya melalui kedua aspek yakni fisik maupun mental,'' katanya.

Aspek fisik melalui latihan-latihan menabuh dan menari. Aspek mental melalui pendalaman-pendalaman keilmuan dan kaitannya dengan keyakinan terhadap Ida Sang Hyang Widi, sehingga mampu tajam atau metaksu dalam penampilan. * subrata 



"Tumpek Landep Mengasah Pikiran Mencapai Kesadaran Sejati"
 
 Apa filosofi di balik ritual Tumpek Landep? Berikut pendapat Ida Pedanda Gede Made Gunung, IGN Sudiana dan Gede Rudia Adiputra.
TUMPEK Landep adalah hari suci yang masih erat kaitannya dengan hari turunnya ilmu pengetahuan, yakni hari Saraswati. Setelah manusia mendapatkan ilmu pada hari Saraswati, mereka harus mengasah pikiran itu seruncing-runcingnya untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Menurut tokoh spiritual Ida Pedanda Made Gunung, dalam perayaan Tunpek Landep masyarakat secara simbolis melakukan upacara terhadap berbagai macam senjata, keris, tombak dan senapan. 'Namun soal ngotonan mobil, apakah dapat disamakan dengan senjata, tentunya hal itu perlu pembahasan lebih lanjut,' ujarnya.
Katanya, Tumpek Landep merupakan proses pendekatan diri kepada Tuhan untuk mengasah ilmu dalam rangka mencapai kesadaran sejati. Dalam implementasi saat ini, perayaan Tumpek Landep oleh generasi muda dapat dilakukan dengan menuntut ilmu setinggi-tingginya untuk masa depan, bukan dugem dan mabuk-mabukan.
Ida Pedanda dari Gria Purnawati, Blahbatuh ini mengimbau kepada umat manusia, khususnya umat Hindu, jangan lupa untuk mengasah pengetahuan demi hal yang positif, untuk membangun bangsa dan negara serta membangun diri sendiri untuk mendapatkan kesadaran hakiki.
Sementara itu, Ketua Parisada Bali IGN Sudiana mengatakan dalam ritual Tumpek Landep ada ungkapan landeping idep (pikiran), landeping wak (perkataan) dan landeping laksana (perbuatan). Hal itu mengandung makna bahwa pikiran, perkataan dan perbuatan mesti 'ditajamkan' ke arah kemajuan -- bermanfaat besar untuk kepentingan manusia.
Manah perlu terus dipertajam dengan belajar atau meraih ilmu pengetahuan setinggi-tingginya, wak dipertajam dengan menata perkataan dengan baik -- mana yang perlu diucapkan dan mana yang tidak. Sedangkan laksana dipertajam dengan konsep berpikir yang membawa ke arah keharmonisan.
Tumpek Landep merupakan piodalan untuk memuja Hyang Pasupati -- manifestasi Tuhan yang memberi anugerah kehidupan kepada makhluk hidup dan senjata kehidupan manusia. Karena itu pada saat Tumpek Landep, senjata yang runcing atau tajam seperti keris diupacarai -- sebagai rasa bakti umat kepada Tuhan yang telah menganugerahkan senjata atau peralatan yang memudahkan kehidupan manusia. Belakangan, tak hanya keris, peralatan manusia seperti kendaraan juga diupacarai.
Rektor IHDN Denpasar Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag. mengatakan, perayaan Tumpek Landep pada hakikatnya memohon kepada Tuhan agar umat dianugerahi ketajaman senjata kehidupan. 'Landep itu mengandung makna rucing atau tajam. Jadi yang ditajamkan adalah senjata kehidupan kita,' ujar Rudia Adiputra.
Senjata kehidupan itu, kata Rudia, tiada lain adalah pikiran. Agar pikiran cerdas, perlu ditajamkan. Melalui pikiran yang tajam umat mampu menghadapi berbagai musuh --y akni persoalan-persoalan kehidupan, antara lain kemiskinan, kebodohan, dan sebagainya. 'Berbagai musuh itulah yang mesti kita lawan dengan senjata kehidupan,' ujarnya.
Dalam menghadapi persoalan, senjata kehidupan masing-masing perlu diasah. Jika ia seniman, senjata berkeseniannya perlu ditajamkan. Penajaman senjata itu diharapkan memunculkan taksu dalam berkesenian.








sumber: BaliPost.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

Bagi yang ingin komentar silahkan !!