Minggu, 28 November 2010

Sejarah Budaya Omed - omedan di Bali

Omed-omedan, Ikon Budaya dan Pariwisata Denpasar

berita.balihita.com
Omed-omedan, saling gelutin, saling kedengin diman…diman“. Itulah sedikit lirik musik yang dibawakan oleh band Bali XXX (baca: triple x) yang kalo di Indonesiakan kurang lebih omed-omedan, saling rangkul, saling tarik, cium-cium yang berusaha mengangkat satu tradisi unik Kota Denpasar yaitu Omed-omedan yang masih terjaga kelestariannya hingga saat ini. Budaya dan tradisi ajang jodoh yang dimiliki masyarakat Br. Kaja Desa Pekraman Sesetan ini akan dijadikan ikon budaya dan Pariwisata Kota Denpasar dalam mewujudkan Kota Denpasar yang berwawasan budaya. Atraksi ini akan dikemas dalam bentuk Sesetan Heritage Omed-omedan Festival 2009 yang akan diselenggarakan sehari setelah hari raya Nyepi atau pada hari Ngembak Geni, 27/3 mendatang.
Kota Denpasar dalam menjaga warisan buadaya leluhur, telah melaksanakan beberapa event seperti Gajah Mada Town Festival dan Denpasar Makanan Warisan Budaya. Dijaman modern ini, kita harus mampu menjaga kelestarian budaya leluhur tanpa harus meninggalkan norma-norma yang ada. Event Sesetan Heritage Omed-omedan Festival 2009 akan dikemas secara modern yang didalamnya juga akan dikolaborasikan dengan festival makanan tradisional bali. Band kebanggaan masyarakat Bali Triple XXX yang merilis single omed-omedan  juga akan memeriahkan acara ini.
omed_omedan
Budaya Omed-omedan Warga Sesetan
Seperti diceritakan, Puri Oka merupakan sebuah kerajaan kecil pada zaman penjajahan Belanda. Ceritanya, pada suatu saat konon raja Puri Oka mengalami sakit keras. Sang raja sudah mencoba berobat ke berbagai tabib tapi tak kunjung sembuh.
Pada Hari Raya Nyepi, masyarakat Puri Oka menggelar permainan omed omedan. Saking antusiasnya, suasana jadi gaduh akibat acara saling rangkul para muda mudi. Raja yang saat itu sedang sakit pun marah besar.
Dengan berjalan terhuyung-huyung raja keluar dan melihat warganya yang sedang rangkul-rangkulan. Anehnya melihat adegan yang panas itu, tiba-tiba raja tak lagi merasakan sakitnya.
Ajaibnya setelah itu raja kembali sehat seperti sediakala. Raja lalu mengeluarkan titah agar omed omedan harus dilaksanakan tiap hari raya nyepi. Namun pemerintah Belanda yang waktu itu menjajah gerah dengan upacara itu. Belanda pun melarang ritual permainan muda mudi tersebut.
Warga yang taat adat tidak menghiraukan larangan Belanda dan tetap menggelar omed omedan. Namun tiba-tiba ada 2 ekor babi besar berkelahi di tempat omed omedan biasa digelar. Akhirnya raja dan rakyat meminta petunjuk kepada leluhur. Setelah itu omed omedan dilaksanakan kembali tapi sehari setelah Hari Raya Nyepi.

:
Dalam perjalanan wisata kali ini, kita akan jalan-jalan ke wilayah Sesetan, Denpasar-Bali. Untuk menuju ke Sesetan tidak med-medan bali sesetanbegitu jauh dari pusat kota denpasar, yakni sekitar 7 kilometer ke arah selatan. Di Sesetan, setiap pergantian Tahun Caka (Nyepi)  ada tradisi unik yakni med-medan.
Ditengah aktifitas kota Denpasar yang modern ternyata masyarakat masih menyimpan tradisi secara turun-temurun, salah satunya yakni med-medan yang dilaksanakan di Banjar Kaja Kelurahan Sesetan Denpasar Selatan. Med-medan dilaksanakan sehari setelah hari raya Nyepi atau disebut dengan Ngembak Geni.
Salah satu orang yang paling dicari terkait tradisi ini adalah I Gusti Ngurah Oka Putra, sesepuh/tetua Banjar Kaja. Sejumlah informasi mengenai asal-usul tradisi ini didapat, Tidak ada bukti tertulis yang memastikan kapan tepatnya tradisi ini mulai berlangsung. Yang sering dijadikan sebagai acuan adalah abad ke 17, meskipun tradisi ini bahkan bisa telah berlangsung jauh sebelum itu.
Sekitar pukul 15.00, Sekaa Teruna Satya Dharma Kerthi, Banjar Kaja Sesetan, berkumpul di halaman bale banjar. Mengawali tradisi unik ini, anggota sekaa teruna melakukan persembahyangan bersama mohon keselamatan atau kerahayuan kepada Ida Batara, sasuhunan yang berstana di Pura Banjar Kaja Sesetan.
Med-medan sendiri berasal dari kata  omed-omedan yang artinya saling tarik. Sesuai namanya,tradisi unik ini  yang diikuti puluhan teruna dan teruni itu diwarnai tarik-menarik. Para peserta yang mengenakan pakaian adat madya secara bergiliran dipertemukan dengan calon dari kelompok masing-masing untuk saling tarik dan berciuman.
Nah..bagi anda yang tertarik untuk mengikuti med-medan sebaiknya tahan dulu…karena omed omedan hanya dapat dilakukan bagi teruna teruni banjar Kaja saja…
Sebelum med-medan dimulai, jalan menuju ke Banjar sesetan di ditutup sejenak, konsentrasi selanjutnya tertuju pada jalan di depan BanjarKaja Sesetan.
Nah sebelum med-medan dimulai, jalan di depan banjar terlebih dahulu dibasahi, dan tak lama kemudian omed omedan akan segera dimulai….
Puluhan orang membagi diri menjadi dua kelompok — barisan laki-laki dan barisan perempuan.
Barisan laki-laki menuju arah utara dan perempuan arah selatan jalan. Ketika barisan sudah saling berhadapan, masing-masing kelompok menunjuk salah seorang anggota yang akan dipertemukan dengan lawan jenisnya. Setelah semuanya sepakat, kedua barisan memutar sekali, lanjut mempertemukan kedua pasangan tersebut.
Di situlah letak keunikannya. Sebelum berangkulan, mereka  omed omedan atau saling tarik beberapa saat. Ketika sudah saling berpegangan atau berangkulan, pasangan itu kemudian diguyur air hingga basah kuyup.
Suasana gembira pun tercipta ketika peserta saling berhadap-hadapan untuk kemudian saling tarik. Apalagi jalannya acara itu dimeriahkan dengan riuhnya gamelan bleganjur, suasana pun tambah sumringah. Jalannya acara yang berlangsung sekitar dua jam itu mendapat apresiasi dari masyarakat.
Med-medan ini dulunya merupakan kebiasaan, tetapi sekarang disakralkan. Pada zaman penjajahan Belanda, med-medan ini juga pernah dilarang. Akan tetapi krama Banjar Kaja tetap melaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Dulunya, med-medan selalu dilaksanakan pada saat Nyepi. Namun, sejak tahun 1979 ada pengumuman dari pemerintah bahwa pada hari raya Nyepi tidak diperkenankan mengadakan keramaian. Maka, tradisi unik ini  akhirnya digelar sehari setelah Nyepi yakni pada ngembak geni-nya.
Med-medan juga sempat ditiadakan, tetapi peristiwa aneh pun terjadi. Dua ekor babi yang tidak diketahui asal-usulnya berkelahi di halaman pura banjar. Perkelahian dua babi itu sangat lama hingga keduanya mengeluarkan darah. Anehnya, babi-babi itu pun menghilang tanpa jejak. Sejak adanya peristiwa aneh itu, maka hingga sekarang med-medan pun selalu digelar.
Penggemar treveling, jika anda sedang berliburan menikmati kesunyian Pulau Bali…

0 komentar:

Posting Komentar

Bagi yang ingin komentar silahkan !!