Rabu, 24 November 2010

Penjor Galungan bukan Ajang Pamer

BUDA Kliwon Dungulan atau Rabu (14/10) mendatang, segenap umat Hindu di Bali kembali larut dalam kekhusyukan perayaan Galungan. Satu hari sebelum Galungan yang dikenal sebagai Hari Penampahan Galungan, umat Hindu di segenap penjuru Bali dipastikan menancapkan penjor di depan pintu masuk rumah masing-masing sebagai tanda kesiapan mereka menyambut hari raya yang diperingati setiap 210 hari tersebut. Kendati pun hari besar keagamaan itu dimaknai sebagai prosesi kemenangan dharma (sifat-sifat kebaikan) atas adharma (sifat-sifat negatif), bukan berarti perayaan sebuah kemenangan itu harus diejawantahkan ke dalam bentuk pesta pora yang berlebihan. Begitu pula dengan penjor Galungan, bambu melengkung yang berhiaskan rangkaian janur dan beragam hasil bumi itu tidak harus dibuat mewah yang melahap dana hingga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Sebab, penjor Galungan bukanlah ajang pamer atau media untuk menunjukkan status sosial maupun kekayaan.
Dihubungi Sabtu (10/10) kemarin, Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat I Ketut Wiana dan Ketua PHDI Bali IGN Sudiana mengaku sangat antusias menyaksikan kegairahan umat Hindu di Bali memasang penjor menjelang perayaan hari-hari besar keagamaan termasuk menjelang Galungan. Namun, kedua dosen IHDN Denpasar itu mengingatkan agar kegairahan itu pemaknaannya tidak sekadar berkutat pada kulit luar atau pada bentuk fisik penjor yang serba wah semata. Dikatakan, penjor Galungan merupakan simbolisasi keikhlasan dan ungkapan terimakasih umat kepada Sang Pencipta atas rezeki yang telah dilimpahkan-Nya. Untuk mensyukuri semua itu, umat semestinya tidak memanfaatkan hasil-hasil bumi secara berlebihan yang sejatinya justru menunjukkan bahwa umat itu tidak bijak dalam memanfaatkan anugerah yang telah dilimpahkan Tuhan,kata Wiana yang dibenarkan pula oleh Sudiana.
Wiana dan Sudiana menambahkan, sungguh sangat etis jika penjor Galungan dimanfaatan sebagai ajang pamer. Tanpa menyebut nama salah satu daerah, dia melihat ada kecenderungan umat mulai menambahkan maupun mengurangi unsur-unsur yang seharusnya ada dalam penjor Galungan untuk mengejar nilai-nilai keindahan dan memunculkan kesan œwah semata. Ironisnya, unsur-unsur yang menjadi penghias penjor berharga mahal bahkan banyak yang merupakan produk impor. Akhirnya, penjor Galungan pun tampil menor tapi mengalami pendangkalan makna. Makin œmenor penjor atau berlebihan keindahannya, maka warga menganggap si pemasang adalah orang kaya. ''Jadi, penjor Galungan dimanfaatkan untuk mempertontonkan status sosial seseorang alias ajang pamer. Tentunya, kita tidak menginginkan fenomena seperti ini terus berlanjut, ujar wiana.
Lebih lanjut, Sudiana mengaku sangat menghargai kreativitas yang ditampilkan oleh umat Hindu untuk membuat penjornya terlihat artistik. Kendati begitu, dia mengingatkan umat agar kreativas itu tidak sampai kebablasan. Apabila ingin menambah keartistikan penjor, penambahan ornament-ornamen itu tetap harus mengacu pada filosofi-filosofi yang terkandung dalam penjor tersebut. Persyaratan lainnya, penjor sebagai sebuah persembahan dan rasa syukur kepada Tuhan harus tetap dilandasi dengan rasa yang tulus ikhlas dan tidak bersifat paksaan. Penjor juga tidak boleh diposisikan sebagai ajang pamer apalagi sampai jor-joran untuk mempertontonkan bahwa pemiliknya berasal dari golongan berada dan terpandang. Kalau obsesi itu yang melandasi pembutan penjor artistik itu, persembahan itu jelas berkurang nilainya,tegasnya.



Ditegaskan, perayaan Galungan justru akan jauh lebih bermakna jika umat Hindu mampu mengisinya dengan aktivitas-aktivitas yang secara langsung bisa meningkatkan ke-sradha-an.Ingat, jangan tafsirkan Galungan itu sebagai keharusan untuk menggelar pesta. Justru sebaliknya, momentum ini harus kita memanfaatkan untuk lebih mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, mengucapkan rasa syukur atas rezeki yang sudah dilimpahkan-Nya sekaligus berusaha melebur sifat-sifat adharma yang akan mengerdilkan jati diri kita sebagai insane yang beragama, tegas Sudiana yang dibenarkan oleh Wiana.
Menurut Sudiana, material-material yang terdapat dalam penjor merupakan simbol yang memiliki makna sangat tinggi di mana makna itu menyangkut isi alam (makrokosmos) dan isi permohonan manusia kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa untuk mencapai keseimbangan dari segala aspek kehidupan seperti Tri Hita Karana. Ditegaskan, penjor Galungan berisi sanggah penjor, pala bungkah, pala gantung, pepatraan (daun-dauanan), sampiyan, lamak, jajan dan sejenisnya semuanya ada maknanya. Secara utuh, penjor Galungan ditancapkan umat Hindu pada Selasa/Anggara wara/wuku Dungulan yang dikenal sebagai hari Penampahan Galungan bermakna tegaknya dharma. Penjor juga sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bambu tinggi melengkung adalah gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Begitu pula material-material lainnya semuanya ada fungsi dan maknanya sehingga wajib dibuat lengkap dengan perlengkapan-perlengkapannya,paparnya panjang lebar

0 komentar:

Posting Komentar

Bagi yang ingin komentar silahkan !!