Minggu, 28 November 2010

Makna Perayaan Hari Saraswati
Hakikat Pengetahuan dan Mitologi Dewi Saraswati
Hari raya Saraswati yang jatuh hari ini, Sabtu Umanis Watugunung, di Bali dimaknai sebagai penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Upacara yang dilakukan tiap 210 hari sekali ini, identik dengan penghormatan kepada Dewi Saraswati sebagai simbol ilmu pengetahuan dan sastra. Bagaimanakah semestinya kita memaknai Saraswati agar upacara yang dilakukan tak hanya berhenti pada upacara?
UPACARA hari raya Saraswati dilakukan dengan memakai banten yang bernama banten Saraswati, berisikan daksina, beras wangi dilengkapi dengan air kumkuman yang diaturkan pada pustaka-pustaka suci. Dalam banten Saraswati tersebut, disertakan jaja cacalan (kue dari beras) yang berbentuk cecek (cicak dalam bahasa Indonesia-red) sebagai simbol Saraswati. Ada beberapa pemikiran tentang dipakainya cecek atau cicak. Kalangan arkeolog dan antropolog memaknainya sebagai binatang yang punya daya magis, mampu menangkap getaran alam, juga dianggap sebagai perwujudan dari leluhur. Kalangan peneliti bahasa menganggapnya sebagai cecek atau dalam bahasa Indonesianya titik, yang merupakan akhir dari sebuah kalimat. Menurut kalangan ini, titik inilah yang menjadi awal, dan tempat bertemunya titik-titik (tanpa putus) adalah pada bilangan nol (lingkaran). Jadi di sini ditafsirkan bahwa binatang cicak/cecek hanya berfungsi sebagai simbol untuk mengungkapkan sesuatu yang sempurna yang tak berujung dan tak berakhir.
Sehari setelah hari raya Saraswati (Minggu) dirayakan Banyupinaruh, ditandai dengan melakukan pembersihan ke sumber-sumber air seperti laut atau mandi air kumkuman. Besoknya, dirangkaikan dengan Somaribek (Senin), yang dimaknai dengan terpenuhinya segala kebutuhan pangan.
Dalam hal ini tentu diharapkan dengan pengetahuan yang dipelajari, kita membersihkan diri dan membersihkan tujuan hidup kita untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Proses upacara Saraswati ini di Bali dikenal dengan istilah Ngelinggihang Sang Hyang Aji Saraswati. Kata ngelinggihang ini, bisa dipadankan dengan mempasupati atau juga memberi jiwa (mempertajam-red) pada pengetahuan atau sastra. Sementara kata Saraswati berasal dari akar kata Sr yang berati mengalir. Jadi dalam hal ini, perayaan Saraswati bisa dikatakan sebagai memberi jiwa (mempertajam kembali) sesuatu yang mengalir, yang diidentikkan dengan pengetahuan atau sastra. Proses pemberian jiwa (penajaman kembali) pengetahuan dan sastra ini di Bali lazim dilakukan dengan mengupacarai pustaka-pustaka (lontar dan buku-buku).
Dalam proses ini, sebelum diberi jiwa kembali, tentunya kita mesti memiliki kesadaran akan hakikat ilmu yang mengalir tanpa henti. Sementara perayaan hanya sebuah tonggak untuk mengingatkan kembali.
Dalam kesusastraan Weda, Saraswati disebutkan sebagai nama sungai yang disebut Dewa Nadi, artinya sungainya para dewa. Sungai Saraswati diyakini berasal dari Indraloka. Dalam puja mantra agama Hindu, Saraswati disebut sebagai salah satu dari tujuh sungai utama di India. Pada kenyataannya secara geografis Sungai Saraswati tidak ditemukan di India, tak seperti Sungai Gangga, Shindu, Wipasa, Kausiki, Yamuna dan Sedayu. Maka, kata ''sungai'' di sini dapat dipahami sebagai simbolisasi dari sesuatu yang mengalir.
Sesuatu yang terus mengalir itu bernama pengetahuan dan di Bali sering disebut sastra. Oleh karena hakikat pengetahuan adalah ''terus mengalir'', maka bila ada orang yang setelah belajar menjadi ''merasa'' pintar, pada saat itulah ia berhenti, karena ia berhenti untuk belajar. Maka tak heran jika leluhur orang Bali menyitirnya dalam sebuah pupuh: ''.... yadin ririh/ liu enu paplajahin.'' (...walaupun pintar/ masih banyak yang harus dipelajari-red). Nasihat ini seakan tak lapuk dimakan zaman, mengajarkan kita untuk belajar dan terus belajar.
Hakikat pengetahuan yang harus terus dipelajari dan mengalir, diungkapkan juga oleh Ketut Wiana dalam bukunya ''Yajna dan Bhakti'''. Ia mengutip pendapat Swami Sakuntala yang menjelaskan bahwa ilmu yang dimiliki oleh seseorang akan menyebabkannya egois dan sombong. Oleh karena itu, ilmu harus diserahkan kepada Dewi Saraswati sehingga pemiliknya menjadi penuh wibawa, karena keegoisan dan kesombongannya itu telah disingkirkan oleh kesucian dari Dewi Saraswati.
Penyerahan ilmu kepada Dewi Saraswati bisa ditafsirkan sebagai pemahaman akan hakikat pengetahuan yang mengalir. Jika seseorang paham hakikat tersebut, ia menjadi rendah hati dan bijak, sehingga selalu ingin belajar dan belajar. Oleh karena seiring dengan bertambahnya pengetahuannya, bertambah pula kesadarannya akan tak terbatasnya pengetahuan itu.
Mitologi
Konsep Dewi Saraswati sebagai dewi dari sesuatu yang mengalir dalam cerita Salya Parwa divisualkan sebagai dewi penjaga lembah Sungai Saraswati, penjaga pengetahuan dan Weda. Diceritakan, di lembah Sungai Saraswati terdapat tujuh resi yang sangat menguasai Weda yakni Resi Gautama, Bharadwaja, Wiswamitra, Yamadageni, Resi Wasistha, Kasiyapa, dan Atri. Suatu ketika saat musim kemarau datang, keadaan di lembah Sungai Saraswati itu kering. Tumbuh-tumbuhan banyak yang mati, sehingga bahan makanan yang tersedia sangat tidak mencukupi. Makin lama keadaan tersebut makin sulit, makanan makin sulit ditemukan. Ketujuh resi tersebut tidak tahan dengan keadaan itu. Mereka kemudian mencari tempat yang lain. Mereka meninggalkan lembah Sungai Saraswati. Hanya putra Dewi Saraswati yang bernama Saraswata yang tetap bertahan, menjaga lembah Sungai Saraswati dan Weda. Karena ketekunan dan kesetiannya, dia justru tidak pernah kelaparan. Diceritakan, keadaan tujuh resi yang meninggalkan lembah Sungai Saraswati justru keadaannya makin sulit, selain tidak mendapat bahan makanan yang cukup, mereka juga sedikit demi sedikit mulai melupakan pengetahuan dan Weda yang mereka kuasai. Akhirnya ketujuh resi tersebut kembali ke lembah Sungai Saraswati.
Dalam kitab yang lain, kitab Aiterya Brahmana diceritakan seseorang resi yang bernama Kawasa. Suatu ketika resi tersebut memimpin sebuah upacara agama. Oleh pendeta-pendeta yang lain, Resi Kawasa dianggap tidak layak memimpin upacara karena diangap kurang berpengetahuan dan menguasai Weda. Kawasa kemudian dibuang di sebuah padang rumput yang tandus. Dalam pembuangan tersebut, Kawasa tidak menyerah, ia tetap memuja Tuhan. Karena tekun dan setia memuja Tuhan, akhirnya Dewi Saraswati memberikannya anugerah pengetahuan dan Weda. Setelah dirasakan memiliki pengetahuan yang cukup, Kawasa kembali ke daerahnya. Melihat pengetahuan dan penguasaan Weda oleh Kawasa, yang tidak sekadar ada dalam mantra dan kata-kata tetapi juga dalam tingkah laku, para pendeta yang dulu mengusirnya malah mengakuinya sebagai brahmana sejati.
Dari kedua cerita itu, nampak yang ditekankan adalah kesetiaan, ketekunan dan keberanian menjalani penghinaan, penderitaan, yang membuat Saraswata maupun Resi Kawasa mendapatkan anugerah Dewi Saraswati.

0 komentar:

Posting Komentar

Bagi yang ingin komentar silahkan !!